lutung jawa dilepas

Lutung Jawa Dilepasliarkan di Jawa Timur

Empat ekor Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur (RKW 22 Malang) bersama THE ASPINALL FOUNDATION-INDONESIA PROGRAM (TAF-IP) Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun. Pelepasliaran 4 ekor Lutung Jawa ini merupakan pelepasliaran tahap ke 4, dengan lokasi pelepasliaran berada di kawasan Hutan Lindung Coban Talun, Sebelah barat Gunung Petungamplok, Perum Perhutani RPH Punten, BKPH Pujon, KPH Malang, lokasi tersebut berbatasan dengan kawasan hutan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Selama Tahun 2021 Balai Besar KSDA Jawa Timur telah melepasliarkan Lutung Jawa sebanyak 19 ekor, yang terbagi dalam 6 kelompok dengan lokasi kawasan Hutan Lindung Coban Talun.

Adapun tujuan pelepasliaran Lutung Jawa adalah:

a). Memberikan kesempatan Lutung Jawa untuk dapat hidup bebas di alam sesuai dengan kondisi perilaku dan habitat alaminya;

b). Memulihkan keadaan populasi Lutung Jawa di kawasan hutan yang tidak ada atau sedikit populasi Lutung Jawa dengan tetap mempertimbangkan sebaran dan luasnya habitat, jumlah populasi liar serta tingkat ancaman terhadap populasi dan habitatnya;

c). Memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak memelihara satwa liar yang dilindungi jenis Lutung Jawa serta membiarkan satwa liar hidup bebas di alam.

Empat ekor Lutung Jawa yang dilepasliarkan tersebut, 2 ekor berasal dari hasil penyerahan masyarakat di Surabaya dan Probolinggo serta 2 ekor merupakan hasil translokasi dari Balai Besar KSDA Jawa Barat. Lutung Jawa yang dilepasliarkan telah melalui proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa Coban Talun, selama kurang lebih 9-13 bulan (dengan observasi intensif 3,5 bulan). Beberapa proses tahapan perawatan dan rehabilitasi selama di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa, telah mampu dilewati dengan baik oleh semua individu Lutung Jawa yaitu: a). Adaptasi lingkungan; b). Adaptasi pakan dan c). Adaptasi sosial dalam kelompok.

Sebelum pelepasliaran Lutung Jawa telah melalui pemeriksaan fisik, pemeriksaan parasit internal pada feses, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, herpes, Tuberculosis (TBC), SIV (Simian Immunodeficiency Virus), STLV (Simian T-lymphotropic Virus), SRV (Simian Retro Virus), kultur bakteri melalui swab rectal, juga dilakukan pengambilan sampel dengan swab untuk pemeriksaan Covid-19 dan sudah dinyatakan sehat serta terbebas dari penyakit menular. Lutung-lutung tersebut juga sudah dilakukan penandaan (Tagging) dengan microchip transponder.

Lutung Jawa merupakan salah satu jenis Primata endemik yang dimiliki Indonesia dan hanya terdapat di Pulau Jawa. Lutung Jawa sudah dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi Negara berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 733/Kpts-11/1999 tentang Penetapan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) sebagai Satwa Dilindungi. Keputusan tersebut diperkuat dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Kegiatan Pelepasliaran Lutung Jawa ini sebagai salah satu bentuk realisasi program konservasi primata endemik Jawa yang terancam punah, khususnya Lutung Jawa dengan melibatkan berbagai pihak pemangku kawasan hutan di Jawa sebagai lokasi pelepasliaran yaitu: (Balai Besar KSDA, Balai Besar Taman Nasional, Tahura dan Perum Perhutani) dan pemangku kepentingan untuk membangun rasa keperdulian terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian Lutung Jawa. Selain itu pelepasliaran Lutung Jawa merupakan upaya Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama The Aspinall Foundation-Indonesia Program (TAF-IP) dalam rangka mengembalikan satwa-satwa hasil penertipan/ operasi dan penyerahan masyarakat ke habitat alaminya, setelah melalui serangkaian proses rehabilitasi.