hutan lindung malang

Marinir Tanam 10 Ribu Pohon untuk Selamatkan Hutan Lindung Malang Selatan

Anggota marinir dari Pusat Latihan Tempur 4/Purboyo TNI Angkatan Laut menanam 10 ribu pohon untuk menyelamatkan hutan lindung yang tersisa di kawasan pesisir selatan Malang. Kegiatan penanaman sekaligus untuk memperingati hari jadi ke-45 Komando Latihan Marinir pada 25 Januari nanti. 

Lokasi penanaman di pilih di Pantai Baruna alias Pantai Kondang Iwak, Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Pantai Baruna telah menjadi lokasi latihan tempur baru per November lalu bagi marinir Purboyo yang berbasis di Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, sekitar 70 kilometer dari pusat Kota Malang, tersebut.  

Komandan Puslatpurmar 4/Purboyo, Letnan Kolonel Marinir Sulistyo Ivan Nurcahyo, mengatakan tanaman berasal dari jenis pohon-pohon keras rimba campuran yang ditanam di bekas daerah yang rusak akibat perambahan hutan. “Ada juga pohon buah yang kami bagikan kepada warga sekitar lokasi latihan kami, seperti pohon alpukat, kelengkeng, petani, dan durian,” kata Ivan, Jumat sore, 21 Januari 2022.

Kegiatan konservasi lingkungan dan hutan itu juga melibatkan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Malang, lembaga konservasi dan pemberdayaan masyarakat Sahabat Alam (Salam) Indonesia, Kelompok Studi Satwa Liar Kelelawar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, serta Camat Donomulyo dan masyarakat Desa Tulungrejo dan Desa Banjarejo. 

Ivan menyatakan, Marinir Purboyo berkomitmen untuk terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan demi menyelamatkan kekayaan flora dan fauna yang tersisa di kawasan Malang Selatan. Penyelamatan dan perlindungan hutan yang tersisa juga harus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. 

Selain menanam pohon rimba dan pohon buah, bentuk kepedulian Marinir Purboyo terhadap pelestarian ekosistem hutan juga ditunjukkan dengan terlibat menanam terumbu karang. Marinir Purboyo menambahkan komitmennya dengan tak mengambil satwa hutan yang dilindungi saat menjalani materi bertahan hidup di dalam hutan atau jungle survival kegiatan pendidikan dan latihan komando.  

“Kami membawa sendiri satwa dari luar ke tempat latihan, seperti ular. Jadi, kami tidak mengambil langsung di dalam hutan,” kata Ivan. 

Pendiri sekaligus Ketua Salam Indonesia, Andik Syaifuddin, menyebut hutan lindung yang tersisa di Malang selatan sekitar 1.989 hektare. Dia mengapresiasi komitmen marinir Purboyo selama ini yang dinilainya cukup aktif berkontribusi dalam pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem Malang selatan. 

Andik mencontohkan, marinir ikut kegiatan transplantasi terumbu karang, jambore kupu-kupu, penanaman mangrove, patroli keamanan hutan, hingga merehabilitasi hutan yang rusak. “Harapan kami, ke depan prinsip-prinsip pendidikan konservasi bisa ditanamkan sebagai kurikulum pendidikan komando latihan Marinir sehingga lulusannya bisa jadi kader-kader penggerak konservasi dan pemberdayaan masyarakat di mana pun mereka bertugas,” kata Andik.   

Hutan lindung yang tersisa masih menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna. Di dalamnya masih terdapat satwa liar dilindungi dan diprioritaskan penyelamatannya, seperti macan tutul (Panthera pardus melas), elang jawa (Nisaetus bartelsi), banteng jawa (Bos javanicus), kukang jawa (Nycticebus javanicus), lutung jawa (Trachyphithecus auratus), serta tiga spesies burung rangkong, yaitu kangkareng perut putih (Anthacoceros albirostris), julang emas (Aeros undulatus), dan rangkong badak (Buceros rhinoceros).

Bahkan, harimau jawa (Panthera tigris sondaica) yang dianggap punah diduga masih ada di Malang selatan. Sedangkan spesies tanaman langka yang masih ada antara lain pala jawa (Myristica teijsmannii) dan gadung cina (Smilax sp). 

Berdasarkan data buatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang 2015, total luas hutan produksi dan hutan lindung di Kabupaten Malang 85.470 hektare, masing-masing seluas 43.105 dan 42.365 hektare. Jika ditambah dengan hutan konservasi dan hutan rakyat, maka ada sekitar 127 ribu hektare hutan di Kabupaten Malang. 

Adapun hutan lindung di pesisir Malang Selatan tersebar di tujuh kecamatan: Donomulyo (421 hektare), Pagak (1.250 hektare), Bantur (1.401 hektare), Gedangan (788 hektare), Sumbermanjing Wetan (8.275 hektare), Tirtoyudo (4.154 hektare), dan Ampelgading (5.223 hektare). 

Hutan-hutan di Kabupaten Malang, terutama di pesisir selatan, mengalami kerusakan parah sepanjang 1998-1999 akibat penjarahan hutan dan penebangan pohon. Diperkirakan 41 ribu hektare hutan saat itu digunduli hingga memicu terjadinya banjir, banjir bandang dan longsor.